sakotret jeroning ati

berikan yang kita cintai, jangan berharap memiliki

Belajar Mencintai

Ia terlahir, sementara ayahnya telah lama pergi untuk selama-lamanya. Dan tak lama setelah lahir, karena tradisi ia pun berpisah dari ibu kandungnya. Sejak kecil, ia “dikondisikan” untuk mandiri dan sendiri. Tapa orang tua (ibu/bapak), tanpa saudara kandung. Sejarah hidupnya adalah perjalanan ditinggalkan orang-orang terkasih. Kita akan menyebutnya sebagai kehidupan yang kering dengan tetesan kasih sayang.

Ia semakin merasa terasing ketika melihat cara dan tradisi kehidupan masyarakatnya. Ia seperti hidup diantara segerombolan srigala yang antara satu dengan yang lainnya saling memangsa. Tak lagi ada rasa hormat terhadap manusia lainnya, bahkan masa depan kehidupan dirinya pun tak jarang ia serahkan pada beberapa biji anak panah. Mereka mengundi apa yang akan dan ahrus dilakukannya, bukan dengan cara memikirkan dan mempertimbangkannya secara matang dan dewasa. Dan, anak-anak perempuan mereka mati membusuk dilindas kesombongan bapak-bapaknya.

Ia mencoba kesibukan yang masyarakatnya lakukan. Berdagang, melintasi gurun sahara dan mendatangi berbagai negeri. Namun, ternyata ia tidak pernah bisa nyaman berada diantara gelimang uang dan tidak pernah merasa berbahagia berada diantara harta dunia. Dan selalu gerah bila berdekatan dengan para penguasa dunia. Ia malah merasa demikian sejuk dan nyama berada diantara para miskin papa.

berlanjut…………………………….insyaallah

Jumat, 23 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Percikan | | No Comments Yet

Laptop Icon yang Bias


Di kalangan masyarakat Indoenesia, Laptop tentunya tidak seterkenal PC Desktop. Hal ini dikarenakan selain harganya yang masih dianggap melangit bagi sejumlah besar masyarakat Indonesia, juga karena tradisi kerja kita bukan berdasarkan konsep perencenaan tertentu dan belum terbiasa menulis dan membuat laporan atau catatan kemajuan pekerjaan, dan sebab-sebab lainnya. Intinya, Laptom masih merupakan icon bagi identitas manusia-manusia “langitan”, baik secara sosial maupun ekonomi.

Kini entah karena apa, Laptop sedikit demi sedikit bergeser menjadi sesuatu yang berkesan “lucu”. Hal ini tentunya bagi masyarakat Indoensia. Sebagai contoh, dapat dilihat dari komentar Ole-Ole dalam Koran Harian Pikiran Rakyat, Hari Jum’at 23 Maret 2007. Bunyi lengkapnya begini: laptop; ANGGOTA DPR akan diberi laptop seharga Rp 21 juta (Mau adu lucu sama Tukul?). Mungkin gara-gara ungkapan Tukul yang sangat terkenal itu: “Kembali ke Laptop”.

Ungkapan Ole-Ole itu bisa baca dengan beberapa cara pandang. Bisa dilihat dari karakteristik para anggota DPR nya sendiri yang kini senantiasa menjadi pembicaraan yang berbau “sinis” oleh berbagai kalangan. Sehingga, apa pun yang berhubungan dengan “DPR” cenderung dipandang tidak patut. Apalagi kini isu yang mengemuka berelasi dengan sesuatu yang sangat dekat dengan icon bagi acara yang dibawakan oleh Tukul, yaitu Laptop. Dalam hal ini, keberadaan dan fungsi Laptop bagi para anggota DPR seolah-olah dinafikan. Dengan kata lain, kita harus berpikir ulang untuk memberikan Laptop pada anggota DPR, karena Laptop tidak memiliki kegunaan apa pun bagi para anggota DPR kecuali menampah “kelucuannya”. HAHAHA

Jumat, 23 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Artikel | | & Komentar