sakotret jeroning ati

berikan yang kita cintai, jangan berharap memiliki

hasrat

hasrat

Kamis, 12 April 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Kedipan Mata | | No Comments Yet

Cinta

myspace layouts, myspace codes, glitter graphicsCinta itu ibarat langit, ia meliputi kita

Cinta memiliki cinta

Bila kita tergerak tuk memilikinya,

Ia lenyap tanpa bekas

Kamis, 12 April 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Sebening Hati | | 1 Komentar

Kekerasan sebagai Alternatif

Demi menegakkan kedisiplinan di dunia akademik, kekerasan menjadi alternatif….

Sungguh tragis, komunitas yang sedianya mengedepankan intelektualitas, kearifan dan kreativitas malah dikotori dengan premanisme (ini sih bukan militerisme lagi namanya). Akan menjadi apa masasa depan negeri ini? Di kalangan preman saja masih mengenal istilah solidaritas, nah di kampus yg satu ini sepertinya solidaritas (apalagi rasa kemanusiaan, intelektualitas, ke’arifan dan kreativitas) kayanya telah menjadi sesuatu yang asing atau jangan-jangan semenjag bersirinya kampus ini, sama sekali tidak dikenal istilah-istilah tersebut selan premanisme dan kekerasan.

Coba anda perhatikan clift Film ini , entah apa judul yang cocok buat fil ini…..

Selasa, 10 April 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Film | | No Comments Yet

Kedai-Kebebasan.org

Kedai-Kebebasan.org

Sabtu, 7 April 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Uncategorized | | No Comments Yet

"Ketika Tuhan Membisu dan Menutup Mata"

Oleh A. Gibson

Angin berhembus kencang menerpa semua yang menghalanginya. Sinar matahari seolah ingin mengetahui apa yang terjadi di muka bumi, memancarkan cahayanya semakin kuat. Udara semain panas, memanasi seluruh permukaan bumi, dan panasnya terbawa angin yang bergerak demikian kencang. Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba hembusan kencang angin berhenti dan cahaya matahari pun redup tanpa sebab yang jelas. Padahal tidak ada sedikit pun tampak awan menghalanginya. Dua hari kemudian, terjadi hal yang sangat mengemparkan.

Kegemparan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia. Kegemparan yang lebih dahsyat dari terjadinya perang dunia yang pernah terjadi. Tersebar pamplet dan selebaran lainnya yang ditempel di semua rumah ibadah dan sentral kegiatan keagamaan. Berita tersebut, bahkan pada akhirnya bukan hanya tersebar melalui pamplet dan selebaran-selebaran, tetapi juga dalam media masa cetak maupun elektonik. Berita yang bukan lagi isue, bahkan berita yang diberitakan oleh semua media masa di seluruh dunia. Isinya pendek, namun telah melahirkan sejumlah spekulasi dan pembicaraan setiap orang. Beritanya pendek, namun membuat semua orang bertanya-tanya. “Dipermaklumkan bahwa Tuhan telah memerintahkan melalui semua pemuka agama dan orang-orang suci di seluruh dunia, mulai tanggal satu bulan depan tahun ini juga, semua larangan serta syari’at dalam agama dicabut dan tidak diberlakukan !”. Berita besar, karena untuk pertama kalinya semua agama sepakat dan secara bersamaan mendapat “wahyu” dari Tuhannya, dengan isi dan maksud yang sama.

Mungkin kehidupan langit di atas sana pun telah tertulari isu posmo, atau Tuhan telah muak dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi di dunia. Atau mungkin Tuhan Yang Maha Tahu, punya maksud lain yang tidak terpikirkan manusia, bahkan dengan logika posmo sekalipun, kembali hanya Tuhan yang tahu. Lebih hebat lagi, tidak ada seorang yang beragama pun meragukan kebenaran perintah tersebut, termasuk kaum agamawan dan kaum spiritualis di seluruh penjuru dunia. Maka, pada waktu yang telah ditentukan, berlakulah kehendak Tuhan itu.

Semua orang yang beragama beserta tokoh-tokohnya kebingunagan apa yang harus dilakukan, tapi hal itu tak lama terjadi. Selanjutnya mereka melakukan segala sesuatu yang sebelumnya mereka anggap haram atau dilarang untuk dilakukan. Dari mulai perbuatan yang memang sebelumnya dianggap baik sampai perbuatan yang sebelumnya dianggap tidak baik, jahat, bahkan perbuatan yang paling jahat sekali pun, mereka lakukan. Namun ada hal yang aneh, kejahatan-kejahatan yang ketika itu tidak lagi mereka anggap jahat tersebut tidak dilakukan kepada sesama orang yang beragama atau yang taat beragama, melainkan dilakukan kepada mereka yang sebelumnya tidak beragama; kepada yang tidak ta’at beragama dan kepada mereka yang dahulu senantiasa menghalang-halangi orang beragama.

Selama kejadian itu, cuaca terang benderang, angin bertiup dengan lembut, sepoi-sepoi. Tidak ada bencana alam terjadi, tidak ada pembakaran hutan, tidak ada banjir, tidak ada pesawat yang jatuh, atau kendaraan yang bertabrakan. Lebih jauh lagi tidak ada kematian. Seolah-olah malaikat maut sedang malewati masa istirahat dan menikmati masa cutinya.

Tidak lama kemudian, tiga hari setelah itu, kembali rumah-rumah ibadah dan pusat-pusat kegiatan keagamaan didatangi dan dipenuhi orang. Namun anehnya mereka itu bukanlah orang-orang beragama, melainkan orang-orang selama ini menyepelekan, mengejek bahkan menganggap Tuhan tidak ada. Orang yang selama ini melakukan kejahatan dan penyelewengan yang kini dilakukan oleh orang-orang beragama itu. Mereka yang mendatangi rumah ibadah itu berdo’a dan memohon kepada Tuhan yang selama ini mereka ingkari untuk mengembalikan keberlakukan hukum-hukum dan larangan-larangan agama. Mereka berdo’a supaya agama dan syari’at segera diberlakukan lagi. Namun Tuhan memang senantiasa konsisten dengan apa yang diucapkannya. Do’a mereka ini seolah-olah tidak didengar Tuhan. Karena memang saat ini Tuhan sedang menutup mata dan telinga dengan apa yang manusia lakukan.

Manusia memang baru ingat sesuatu apabila dianggapnya hal itu menguntungkan dan akan menyelamatkan hidup dan miliknya.
Selasa, Nopember 22, 1998

Sabtu, 24 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Cerita | | No Comments Yet

Jangan Jual Jiwa dan Kebebasanmu

Ahmad Gibson al-Bustomi

Nurai tak kan pergi ke mana…
Ia senantiasa mengecup kening kita,
kala embun pagi kedipkan mata indahnya.
Namun kita entah di mana

Jiwa, kini merupakan term yang sangat khas religius dan atau mitis. Term yang kini semakin menguap besamaan dengan hembusan angin modernisme (dengan berbagai aspeknya). Integritas manusia dari hari ke hari sedikit demiki sedikit terkikis dan dipreteli. Beralih menjadi binatang dan akhirnya menjadi robot ( ka al-an’am bal hum adhol: seperti binatang bahkan lebih rendah, al-Qur’an).

Nietzsche, tokoh filsafat eksistensi yang memproklamirkan kematian tuhan, mengingatkan kita tentang karakteristik hidup manusia: “Maju ke medan perang, mundur menjadi binatang, atau mati hancur binasa”. Dengan kata lain, manusia senantiasa dituntut untuk berperang mempertahan eksistensinya, atau mundur dan menjadi binatang. Sebuah pertaruhan yang tidak kecil.

Hidup memang sebuah pertaruhan, dan ada yang dipertaruhkan. Tuhan (apabila anda mengimaninya) memberi kebebasan pada manusia untuk memilih pertaruhan itu, dan Tuhan mengingatkan akan konsekwensi dari setiap pertaruhan (pilihan) yang kita ambil. Di sinilah letak keistimewaan manusia, pada kebebasan untuk memilih pertaruhan kehidupannya. Pilihan yang menentukan apakan kita masih sebagai manusia, atau hanya sosok yang bertubuh manusia. Bereksistensi, atau tidak.

Dalam sinopsis cerita drama “Selln’t Our Soul”, dengan icon-icon mitiknya, Abu berhadapan dengan dua pilihan, mengikuti dan memenuhi tiga tawaran Solmyr (sayang tidak disebutkan dalam sinopsis), untuk ditukar dengan jiwanya. Di sisi lain hadir pula sosok Valeska malaikat pelindung. Bila valeska disebut sebagai sosok maliakat, maka Solmyr mungkin merupakan sosok iblis. Dengan demikian terdapat tiga kaca kunci, Jiwa (manusia), malaikat dan iblis. Iblis berusaha untuk menyeret manusia untuk kembali menjadi “tanah, debu”, malaikat berusaha mengingatkan manusia untuk senantiasa mempertahan dan melindungi kemanusiaannya dengan menjernihkan jiwa/kesadaran dan menjadikan jiwa/kesadaran untuk senantiasa terjaga, dan menjadi unsur dominan dalam hidupnya.

Jiwa, dalam term agama atau spiritualitas. Dalam Filsafat dikenal dengan kesadaran. Bila manusia “kehilangan jiwan, kesadarannya (yang berarti azas bagi kemanusiaannya), maka pilihan moldel apa pun tidak akan bisa dinikmati dengan semestinya. Bila kita menarik tentang pertarungan dan pengembaraan kehidupan dalam drama tersebut dalam kontek kesekarangan, sungguh sangat menarik. Tidak sedikit manusia modern atau yang dipaksa untuk modern yang secara sadar atau tidak sadar telah menggadaikan jiwa dan kehidupannya dengan sesuatu yang “dianggap”-nya menyenangkan dan menyelamtkan kehidupannya. Dengan alasan ekonomi, sosial, jaminan masa depan dan alasan-alasan lainnya manusia dengan suka rela atau terpaksa menukarkan jiwanya dengan sesuatu yang akan mencapai harapannya. Pertukaran penuh resiko, karena bukan mustahil pilihan itu berakibat lenyapnya dimensi kemanusiaanya, jiwanya, kesadarannya. Fenomena demikian sebenarnya bukan hanya hadir dalam kehidupan modern, akan tetapi telah menjadi bagian dari sejarah kehadiran manusia di muka bumi.

——— Disampaikan dalam acara: Talk Show College Life, yang diadakan oleh LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indenesia); Sabtu, 24 Maret 2007.

Sabtu, 24 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Artikel | | No Comments Yet

Belajar Mencintai

Ia terlahir, sementara ayahnya telah lama pergi untuk selama-lamanya. Dan tak lama setelah lahir, karena tradisi ia pun berpisah dari ibu kandungnya. Sejak kecil, ia “dikondisikan” untuk mandiri dan sendiri. Tapa orang tua (ibu/bapak), tanpa saudara kandung. Sejarah hidupnya adalah perjalanan ditinggalkan orang-orang terkasih. Kita akan menyebutnya sebagai kehidupan yang kering dengan tetesan kasih sayang.

Ia semakin merasa terasing ketika melihat cara dan tradisi kehidupan masyarakatnya. Ia seperti hidup diantara segerombolan srigala yang antara satu dengan yang lainnya saling memangsa. Tak lagi ada rasa hormat terhadap manusia lainnya, bahkan masa depan kehidupan dirinya pun tak jarang ia serahkan pada beberapa biji anak panah. Mereka mengundi apa yang akan dan ahrus dilakukannya, bukan dengan cara memikirkan dan mempertimbangkannya secara matang dan dewasa. Dan, anak-anak perempuan mereka mati membusuk dilindas kesombongan bapak-bapaknya.

Ia mencoba kesibukan yang masyarakatnya lakukan. Berdagang, melintasi gurun sahara dan mendatangi berbagai negeri. Namun, ternyata ia tidak pernah bisa nyaman berada diantara gelimang uang dan tidak pernah merasa berbahagia berada diantara harta dunia. Dan selalu gerah bila berdekatan dengan para penguasa dunia. Ia malah merasa demikian sejuk dan nyama berada diantara para miskin papa.

berlanjut…………………………….insyaallah

Jumat, 23 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Percikan | | No Comments Yet

Laptop Icon yang Bias


Di kalangan masyarakat Indoenesia, Laptop tentunya tidak seterkenal PC Desktop. Hal ini dikarenakan selain harganya yang masih dianggap melangit bagi sejumlah besar masyarakat Indonesia, juga karena tradisi kerja kita bukan berdasarkan konsep perencenaan tertentu dan belum terbiasa menulis dan membuat laporan atau catatan kemajuan pekerjaan, dan sebab-sebab lainnya. Intinya, Laptom masih merupakan icon bagi identitas manusia-manusia “langitan”, baik secara sosial maupun ekonomi.

Kini entah karena apa, Laptop sedikit demi sedikit bergeser menjadi sesuatu yang berkesan “lucu”. Hal ini tentunya bagi masyarakat Indoensia. Sebagai contoh, dapat dilihat dari komentar Ole-Ole dalam Koran Harian Pikiran Rakyat, Hari Jum’at 23 Maret 2007. Bunyi lengkapnya begini: laptop; ANGGOTA DPR akan diberi laptop seharga Rp 21 juta (Mau adu lucu sama Tukul?). Mungkin gara-gara ungkapan Tukul yang sangat terkenal itu: “Kembali ke Laptop”.

Ungkapan Ole-Ole itu bisa baca dengan beberapa cara pandang. Bisa dilihat dari karakteristik para anggota DPR nya sendiri yang kini senantiasa menjadi pembicaraan yang berbau “sinis” oleh berbagai kalangan. Sehingga, apa pun yang berhubungan dengan “DPR” cenderung dipandang tidak patut. Apalagi kini isu yang mengemuka berelasi dengan sesuatu yang sangat dekat dengan icon bagi acara yang dibawakan oleh Tukul, yaitu Laptop. Dalam hal ini, keberadaan dan fungsi Laptop bagi para anggota DPR seolah-olah dinafikan. Dengan kata lain, kita harus berpikir ulang untuk memberikan Laptop pada anggota DPR, karena Laptop tidak memiliki kegunaan apa pun bagi para anggota DPR kecuali menampah “kelucuannya”. HAHAHA

Jumat, 23 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | Artikel | | & Komentar

Bila

Bila,
yang menjadikan :

kerlip lentera di gulita malam,
yang menggerakan gumam
di mimpi malam

Bila,
yang menjadikan:
langkah-langkah tertatih,
seorang bayi, menjadi lari para dewa
mengejar iblis di siang hari.

Bila pula
yang mengantarkanku
pada pertemuan diantara
persimpangan jalan.

Gibson, Babakan Sophia,, 6 Desember ’98

Kamis, 22 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | puisiku | | No Comments Yet

Ilusi Senja

kabut gelap bayang-bayangmu kuhapus sudah
namun rona matamu tetap bersarang dalam ceruk
masa lalu yang mengambang di kekinian


sekali-kali kujenguk kau dalam buaian ambang pajar
ku lihat dia di kejauhan
lambai tanganmu membiaskan hasrat
senyummu membisikan sair kepedihan
menyisakan nestapa, menggores luka
kekasih… bila masih bisa kusebut kau kekasih:
baramu masih kusimpan jauh di ujung napas penantian
diantara kelokkan mimpi dan kenyataan
duh… kekasih;
biarkanlah ia di sampai pajar bersanding rembulan….

Gibson, Babakan Sophia, 25 Mei ‘98

Ilusi Senja 2
terjaga aku diambang senja
kutemukan bayangan-bayang
di depanku
karena cahaya kehidupan
bertengger di kaki langit kegelapan
menggariskan tapak-tapak masa lalu
yang tak mungkin kuinjak ulang.

perjalanan di ambang senja,
pengejaran bayang-bayang gelap
kehidupan masa lalu
dan lari dari cahaya
yang tertinggal di batas-batas penantian
bila cahaya adalah pelita kehidupan
kejar dan ikuti dia,
biarkan bayang-bayang mengejar di balik punggung
teruslah berjalan,
jangan kau tengok ia
atau
kematian yang kau temukan
dalam cengkaram ilusi senja.

Gibson, Babakan Sophia, 27 Mei ‘98

Kamis, 22 Maret 2007 Ditulis oleh rambatkamale | puisiku | | No Comments Yet